Kamis, 04 Juni 2009

Harga Minyak terendah sejak 7 bulan terakhir


Harga minyak mentah jatuh dari posisi tertinggi tujuh bulan pada Rabu (3/6) waktu setempat, setelah cadangan minyak mentah Amerika secara mengejutkan melonjak yang mengindikasikan permintaan lebih lemah dari yang diperkirakan dan dolar AS berbalik naik (rebound), kata para pedagang.
Kontrak berjangka utama New York, minyak mentah light sweet untuk pengiriman Juli, merosot US$2,43 dari penutupan Selasa menjadi US$66,12 per barel. Kontrak telah melonjak menjadi US$69,05 pada Selasa.
Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Juli, jatuh US$2,29 menjadi US$65,88.
Harga minyak merosot akibat dolar AS berbalik naik setelah jatuh ke posisi terendah baru dan cadangan minyak di Amerika Serikat, konsumen energi terbesar dunia, melonjak.
Departemen Energi AS (DoE) Rabu mengumumkan, cadangan minyak mentah Amerika meningkat 2,9 juta barel dalam pekan yang berakhir 29 Mei hingga mencapai 366 juta barel. Sebagian besar analis telah memperkirakan sebuah penurunan sebanyak 1,7 juta barel.
"Terus memburuknya permintaan, berlanjut membuat gambaran 'bearish' (lesu besar, menggarisbawahi bahwa kenaikan harga baru-baru ini tidak didukung oleh fundamental pasar," kata Antoine Halff, wakil kepala riset Newedge.
Naiknyastok berkaitan dengan meningkatnya kembali impor.

"Impor yang rendah dalam beberapa pekan --seperti kami katakan beberapa pekan lalu -- bukan akibat kurangnya minyak mentah tapi lebih daripada akibat kilang penyulingan minyak tidak membeli karena stok mereka banyak," kata Hussein Allidina dari Morgan Stanley Research.

"Prospek untuk harga minyak mungkin hanya peralihan signifikan dari kondisi terburuk," kata Nic Brown dari Natixis, menganalisa level cadangan baru AS.

Brown mengatakan, bahwa level cadangan minyak AS dan China strategis untuk dicermati.

Pekan ini, harga minyak telah mencapai puncak tertinggi tujuh bulan didukung oleh melemahnya mata uang AS, yang membuat minyak yang dihargakan dalam dolar lebih murah untuk para pemegang mata uang kuat dan menstimulus permintaan serta mendorong harga naik.

Sementara itu, pasar juga dipengaruhi oleh laporan bahwa beberapa negara anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) tidak menaati kesepakatan pengurangan produksi.

"Kami memperoleh beberapa laporan tentang produksi OPEC yang bergerak naik untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir," kata analis MF Global, John Kilduff pada Selasa.

OPEC, yang memproduksi 40% dari minyak mentah dunia, memangkas target produksinya tiga kali pada akhir tahun lalu untuk menstabilkan harga, yang jatuh dari rekor tertinggi di atas US$147 pada Juli menjadi US$32,40 pada Desember.

Grup yang pekan lalu memutuskan untuk mempertahankan produksinya tak berubah di tengah sinyal pemulihan ekonomi dan naiknya harga minyak mentah, berupaya mempengaruhi harga dengan merancang kuota produksi, dengan para anggota diberikan target individu.

Kabinet Saudi pada Senin mengatakan, bahwa pihaknya memandang US$75-80 per barel sebagai sebuah harga yang wajar untuk minyak mentah. Arab Saudi, eksportir minyak terbesar dunia, adalah pimpinan de facto dari grup produsen minyak OPEC.

Sabtu, 23 Mei 2009

auger mining










Sebuah tambang dengan metode tambang terbuka suatu saat akan mencapai yang namanya pit limit, yaitu suatu batasan di mana suatu tambang sudah tidak ekonomis lagi dioperasikan dengan tambang terbuka.

Hal ini disebabkan karena striping rationya tinggi. Dalam hal ini perbandingan antara bahan galian yang akan diambil dengan lapisan tanah penutupnya terlalu besar. Sehingga biaya untuk pengupasan lapisan penutup sangat besar tidak dapat ditutup dengan hasil bahan galiannya. Untuk masalah tersebut biasanya para ahli langsung mengambil keputusan dengan beralih ke metode tambang bawah tanah. Sebenarnya sebelum memutuskan untuk beralih ke metode tambang bawah tanah, ada satu alternatif lain yaitu "Auger Mining'.

Apakah yang disebut Auger Mining tersebut? Auger Mining adalah suatu metode penambangan yang dilakukan dengan menambang bahan galian (dalam hal ini batubara) di dinding-dinding open pit yang sudah mencapai ultimate pit limit. Sehingga nantinya akan membentuk lubang-lubang di dinding. Sepintas memang mirip dengan tambang-tambang batubara liar. walau bagaimanapun ini adalah salah satu alternatif dari metode penambangan. Untuk di Indonesia, yang pernah melakukan metode penambangan ini adalah PT. Indominco di Kalimantan.

(Redaksi)

blasting introduction


 

Bahan peledak
Bahan peledak yang dimaksudkan adalah bahan peledak kimia yang didefinisikan sebagai suatu bahan kimia senyawa tunggal atau campuran berbentuk padat, cair, atau campurannya yang apabila diberi aksi panas, benturan, gesekan atau ledakan awal akan mengalami suatu reaksi kimia eksotermis sangat cepat dan hasil reaksinya sebagian atau seluruhnya berbentuk gas disertai panas dan tekanan sangat tinggi yang secara kimia lebih stabil.

Panas dari gas yang dihasilkan reaksi peledakan tersebut sekitar 4000° C. Adapun tekanannya, menurut Langerfors dan Kihlstrom (1978), bisa mencapai lebih dari 100.000 atm setara dengan 101.500 kg/cm² atau 9.850 MPa (» 10.000 MPa). Sedangkan energi per satuan waktu yang ditimbulkan sekitar 25.000 MW atau 5.950.000 kcal/s. Perlu difahami bahwa energi yang sedemikian besar itu bukan merefleksikan jumlah energi yang memang tersimpan di dalam bahan peledak begitu besar, namun kondisi ini terjadi akibat reaksi peledakan yang sangat cepat, yaitu berkisar antara 2500 - 7500 meter per second (m/s). Oleh sebab itu kekuatan energi tersebut hanya terjadi beberapa detik saja yang lambat laun berkurang seiring dengan perkembangan keruntuhan batuan.

2. Reaksi dan produk peledakan
Peledakan akan memberikan hasil yang berbeda dari yang diharapkan karena tergantung pada kondisi eksternal saat pekerjaan tersebut dilakukan yang mempengaruhi kualitas bahan kimia pembentuk bahan peledak tersebut. Panas merupakan awal terjadinya proses dekomposisi bahan kimia pembentuk bahan peledak yang menimbulkan pembakaran, dilanjutkan dengan deflragrasi dan terakhir detonasi. Proses dekomposisi bahan peledak diuraikan sebagai berikut:

a) Pembakaran adalah reaksi permukaan yang eksotermis dan dijaga keberlangsungannya oleh panas yang dihasilkan dari reaksi itu sendiri dan produknya berupa pelepasan gas-gas. Reaksi pembakaran memerlukan unsur oksigen (O2) baik yang terdapat di alam bebas maupun dari ikatan molekuler bahan atau material yang terbakar. Untuk menghentikan kebakaran cukup dengan mengisolasi material yang terbakar dari oksigen. Contoh reaksi minyak disel (diesel oil) yang terbakar sebagai berikut:
CH3(CH2)10CH3 + 18½ O2 ® 12 CO2 + 13 H2O

b) Deflagrasi adalah proses kimia eksotermis di mana transmisi dari reaksi dekomposisi didasarkan pada konduktivitas termal (panas). Deflagrasi merupakan fenomena reaksi permukaan yang reaksinya meningkat menjadi ledakan dan menimbulkan gelombang kejut shock wave) dengan kecepatan rambat rendah, yaitu antara 300 – 1000 m/s atau lebih rendah dari kecep suara (subsonic). Contohnya pada reaksi peledakan low explosive (black powder)sebagai bagai berikut:
v Potassium nitrat + charcoal + sulfur
20NaNO3 + 30C + 10S ® 6Na2CO3 + Na2SO4 + 3Na2S +14CO2 + 10CO + 10N2
v Sodium nitrat + charcoal + sulfur
20KNO3 + 30C + 10S ® 6K2CO3 + K2SO4 + 3K2S +14CO2 +10CO + 10N2

c) Ledakan, menurut Berthelot, adalah ekspansi seketika yang cepat dari gas menjadi bervolume lebih besar dari sebelumnya diiringi suara keras dan efek mekanis yang merusak. Dari definisi tersebut dapat tersirat bahwa ledakan tidak melibatkan reaksi kimia, tapi kemunculannya disebabkan oleh transfer energi ke gerakan massa yang menimbulkan efek mekanis merusak disertai panas dan bunyi yang keras. Contoh ledakan antara lain balon karet ditiup terus akhirnya meledak, tangki BBM terkena panas terus menerus bisa meledak, dan lain-lain.

d) Detonasi adalah proses kimia-fisika yang mempunyai kecepatan reaksi sangat tinggi, sehingga menghasilkan gas dan temperature sangat besar yang semuanya membangun ekspansi gaya yang sangat besar pula. Kecepatan reaksi yang sangat tinggi tersebut menyebarkan tekanan panas ke seluruh zona peledakan dalam bentuk gelombang tekan kejut (shock compression wave) dan proses ini berlangsung terus menerus untuk membebaskan energi hingga berakhir dengan ekspansi hasil reaksinya. Kecepatan rambat reaksi pada proses detonasi ini berkisar antara 3000 – 7500 m/s. Contoh kecepatan reaksi ANFO sekitar 4500 m/s. Sementara itu shock compression wave mempunyai daya dorong sangat tinggi dan mampu merobek retakan yang sudah ada sebelumnya menjadi retakan yang lebih besar. Disamping itu shock wave dapat menimbulkan symphatetic detonation, oleh sebab itu peranannya sangat penting di dalam menentukan jarak aman (safety distance) antar lubang. Contoh proses detonasi terjadi pada jenis bahan peledakan antara lain:

v TNT : C7H5N3O6 ® 1,75 CO2 + 2,5 H2O + 1,5 N2 + 5,25 C
v ANFO : 3 NH4NO3 + CH2 ® CO2 + 7 H2O + 3 N2
v NG : C3H5N3O9 ® 3 CO2 + 2,5 H2O + 1,5 N2 + 0,25 O2
v NG + AN : 2 C3H5N3O9 + NH4NO3 ® 6 CO2 + 7 H2O + 4 N4 + O2

Dengan mengenal reaksi kimia pada peledakan diharapkan peserta akan lebih hati-hati dalam menangani bahan peledak kimia dan mengetahui nama-nama gas hasil peledakan dan bahayanya.

3. Klasifikasi bahan peledak
Bahan peledak diklasifikasikan berdasarkan sumber energinya menjadi bahan peledak mekanik, kimia dan nuklir. Karena pemakaian bahan peledak dari sumber kimia lebih luas dibanding dari sumber energi lainnya, maka pengklasifikasian bahan peledak kimia lebih intensif diperkenalkan. Pertimbangan pemakaiannya antara lain, harga relatif murah, penanganan teknis lebih mudah, lebih banyak variasi waktu tunda (delay time) dan dibanding nuklir tingkat bahayanya lebih rendah. Bahan peledak permissible dalam klasifikasi di atas perlu dikoreksi karena tidak semua merupakan bahan peledak lemah. Bahan peledak permissible digunakan khusus untuk memberaikan batubara ditambang batubara bawah tanah dan jenisnya adalah blasting agent yang tergolong bahan peledak kuat.

Sampai saat ini terdapat berbagai cara pengklasifikasian bahan peledak kimia, namun pada umumnya kecepatan reaksi merupakan dasar pengklasifikasian tersebut.


Menurut R.L. Ash (1962), bahan peledak kimia dibagi menjadi:
Bahan peledak kuat (high explosive) bila memiliki sifat detonasi atau meledak dengan kecepatan reaksi antara 5.000 – 24.000 fps (1.650 – 8.000 m/s)
Bahan peledak lemah (low explosive) bila memiliki sifat deflagrasi atau terbakar kecepatan reaksi kurang dari 5.000 fps (1.650 m/s).

4. Klasifikasi bahan peledak industri
Bahan peledak industri adalah bahan peledak yang dirancang dan dibuat khusus untuk keperluan industri, misalnya industri pertambangan, sipil, dan industri lainnya, di luar keperluan militer. Sifat dan karakteristik bahan peledak (yang akan diuraikan pada pembelajaran 2) tetap melekat pada jenis bahan peledak industri. Dengan perkataan sifat dan karakter bahan peledak industri tidak jauh berbeda dengan bahan peledak militer, bahkan saat ini bahan peledak industri lebih banyak terbuat dari bahan peledak yang tergolong ke dalam bahan peledak berkekuatan tinggi (high explosives).


Sumber : Kursus Juru Ledak Kelas II

undersea mine

Tambang Ikeshima di Jepang merupakan salah satu tambang batubara yang unik di dunia. Bagaimana tidak, tambang ini beroperasi di bawah dasar laut. Sehingga dari segi teknologi tingkat kesulitannya cukup tinggi.


Pulau Ikeshima Lokasinya 256 Ohaza Kamiura Ikeshimakyo, Sotomecho Nishisonogi-gun, Nagasaki Prefecture. Sekitar 7 km ke arah barat di lepas pantai dari pantai barat semenanjung Nishisonogi. Sedangkan ukuran dari pulau tersebut adalah dari Timur-barat 1,5 km, utara-selatan 1,0 km, keliling 4,0 km, luas 0,86 km2. Jumlah konsesi tambang yang dimiliki 70, dengan luas 35.500 ha. Cadangan batu bara tertambang teoritis ±1,7 milyar ton dan Cadangan batu bara tertambang terbukti ±270 juta ton.


Seluruh permukaan pulau ditutupi oleh lapisan konglomerat zaman kuarter dan batuan andesit basalan dari zaman Neogene, serta di bawah permukaan laut terdiri dari lapisan Palaeogene. Dari atas berturut-turut terbagi menjadi formasi Nishisonogi, formasi Matsushima, formasi Terajima dan formasi Akasaki. Batuannya terdiri dari batu pasir dan serpih atau mudstone, di beberapa tempat terdapat sisipan tipis lapisan konglomerat. Batuan alasnya adalah granit atau crystalline schist.

Di bagian atas formasi Matsushima terdapat formasi pembawa batu bara. Lapisan batu baranya terdiri dari lapisan batuan atas, lapisan atas dari lapisan 18 shaku, lapisan bawah dari lapisan 18 shaku, lapisan 3 shaku dan lapisan 4 shaku. Jurus lapisan tanah mengarah kurang lebih ke timur-barat di sekitar Ikeshima dan mengarah kurang lebih ke utara-selatan di sekitar Hikishima. Kemiringannya landai, masing-masing 1~10 derajat ke selatan dan timur. Struktur geologinya relatif stabil.

Untuk ekstraksi batubara, datanya adalah sebagai berikut :
Jalan udara dan gate : panjang gate 400~1000 mMetode ekstraksi batu bara longwall sistem mundurPanjang permuka kerja : 100~180 mPenyanggaan : IS-14 shield type self advancing support, Mesin ekstraksi : 3300V multi motor type (DR-900) drum cutter, 60kw electric haulage (DR-500) double ranging drum cutter, AFC 225kw×2 3300V pole change.

Tambang Ikeshima mulai dibangun tahun 1952 tetapi saat ini telah ditutup dan beralih fungsi menjadi Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tambang Batubara Bawah Tanah. Program alih teknologi ini telah menghasilkan lulusan dari 27 negara, antara lain dari Indonesia, RRC dan Filipina, total lebih dari 420 orang.

the danger of open pit




Environmentalists have raised alarm over a recent recommendation from legislators to allow four mining companies to resume open-pit mining operations in protected forests, citing potential huge losses to the country's biodiversity, toxic waste and the ensuing possible loss of human lives.

""This (the decision) is a disgrace. It only shows, again, its (the House's) lack of commitment for the preservation of our forests,"" Togu Manurung, a professor at the Bogor Institute of Agriculture (IPB) and director of Forest Watch Indonesia (FWI), said at a press briefing here Wednesday.

""Already, we lose more than 2 million hectares of forests each year. It's important that we protect the remainder of our forests, especially the protected ones,"" he said.

The government banned open-pit mining in 1999 because of its grave impacts on the environment and human lives.

Longgena Ginting of the Indonesian Forum for the Environment (Walhi) concurred, pointing out that the benefits from mining operations would not offset the severe damage to the environment and ecosystem.

Both Togu and Longgena insisted that the decision would be so damaging to the environment that any post-reclamation effort to bring the ecosystem back would be almost impossible.

Open-pit mining means massive land clearing within a company's concession area before it can start digging for mining products. This land clearance endangers wildlife and flora in the area and its surroundings.

The tailings, or chemical wastes, are toxic. The long period of mining operations, usually spanning tens of years, would produce huge quantities of toxic waste that can contaminate the surrounding lands, and often the rivers, too.

Open-pit mining also jeopardizes the lives of indigenous people in the areas as they usually have a high level of dependency on the forests. Land clearing activities will deprive the indigenous people of their land and their livelihood, threatening their existence.

""These are the kinds of environmental and social costs that need to be taken into account when making the decision, instead of mere economic considerations that protect the interests of investors,"" Togu said.

Legislators earlier claimed that the four companies had met all the requirements, which included a guarantee to prevent the impacts of their explorations on the environment, to carry out post-exploration reclamation efforts and to comply with the regulation on the amount of deposits they are allowed to procure.

The four companies are PT Gag Nickel on Gag Island, Papua province, PT Weda Bay Nickel in Tabobo, Maluku province, PT Nusa Halmahera in Central Halmahera, Maluku province, and PT Citra Palu Minerals in Palu, Central Sulawesi province.

The companies have been selected from a shortlist of 22 mining companies the government had proposed to the House to be allowed to resume mining operations after being forced to stop following the enactment of Law No. 41/1999 on forestry, which bans open-pit mining operations.

There are some 150 companies that have obtained mining permits for operations in protected forests, covering about one-fifth of protected forest areas, or around 11.4 million hectares across the country.

The recommendation for the four companies was issued by a team comprising members of House Commission III on forestry and agriculture and Commission VIII on energy and mineral resources, and the environment. The team is currently assessing requests from the other 18 companies and will submit the results to Commissions III and VIII. The commissions will then make their decision whether or not to grant the permits.

Togu added that the decision also violated several international conventions on biodiversity and forest conservation and protection.

Indonesia has ratified the Convention on Biodiversity (CBD), agreed to the statement of Forest Principles and has become a member of the United Nations Forest Forum, meaning that Indonesia should be highly committed to these principles.

Article 7 of the CBD stipulates that countries are obliged to prevent negative impacts from forest exploitation activities, while Article 8 states that countries must develop protected areas with the goal of conserving those areas.

Horizontal directional drilling

Horizontal Directional Drilling (HDD)

The Pacific Connector Gas Pipeline project crosses a number of fish bearing streams and areas which may be problematic for conventional pipeline construction. To potentially avoid impacts to these sensitive areas, the HDD construction methodology is being reviewed for feasibility.

The use of the HDD methodology at these locations will be determined in consultation with a number of federal and state agencies including the U.S. Army Corps of Engineers, National Marine Fisheries Service, U.S. Fish and Wildlife Service, Oregon Department of Ecology, Oregon Department of Fish and Wildlife, and Oregon Department of Natural Resources.

What is a Horizontal Directional Drill?
The HDD construction method can be used to install pipelines beneath areas where conventional open trench or other construction techniques may cause undesirable surface disturbance.

The HDD method tunnels beneath surface obstacles and then pulls the pipeline back through the underground tunnel, leaving the surface undisturbed.

The tunnels are typically drilled to depths ranging from 25 to 100 feet below surface obstacles, depending upon the location, pipe characteristics, and subsurface conditions.

The HDD installation involves four main steps:

  • Pre-Site Planning
    Extensive pre-site planning is required to determine if the HDD method is technically and geologically feasible. A topographic survey is performed along the proposed drill site to ensure adequate surface area is available to conduct the drilling process. In addition, a geotechnical investigation is conducted at each drill site to determine the subsurface conditions. Using the data from the geotechnical investigation and topographic survey, a specific drill path is determined.

  • Drilling the Pilot Hole
    Once the entry location, exit location and trajectory have been determined, the next step is the drilling of a pilot hole. The drill rig is set up at the entry location.

    When the drill rig is in place, drilling of a pilot hole begins. At all stages along the drilling path, the operator receives information regarding the position, depth, and orientation of the drilling tool, allowing navigation of the drill head along the designed drill path to the exit point.

  • Hole Opening Process
    Upon completion of the pilot hole, the hole opening or reaming process begins. This process consists of progressively enlarging the pilot hole to a diameter that will allow successful pullback of the prefabricated pipe string.

  • Pipe String Pullback
    A pipe string consists of short sections (approximately 40 feet) of steel pipe which are welded together to form a continuous string of pipe for insertion into the drilled hole. The pipe string is slightly longer than the length of the drilled hole. The pipe string is coated with a layer of corrosion and abrasion resistant protective coatings and hydrostatically pressure tested to insure its integrity. The pipe string is then placed on rollers and cradles to assist with movement during pullback. Next, the pipe string is pulled over the rollers and down into the drilled hole. The pullback continues until the entire length of the pipe string has been pulled into the drilled hole.

  • Environmental and Safety Measures
    Pacific Connector will employ specialists at each HDD installation with a proven record of successful completion for projects of similar length and complexity. One inspector is assigned full-time to each of the HDD sites and will assist in monitoring the progress of the drill. Excess drilling fluids (non toxic bentonite clay and water) and cuttings produced by the HDDs will be disposed of at an approved disposal site. Water, to mix the drilling fluids and complete the pipe string hydrotests, will be brought in from off site and stored in tanks at the entry and exit locations.


k3 dalam blasting process

Beberapa perusahaan pertambangan yang melakukan peledakan untuk menghasilkan fragmentasi batuan overburden, dan menggunakan Nonel sebagai inisiasi systemnya tentu tidak asing dengan istilah misfire. Hal ini berhubungan dengan system Nonel yang tidak mempunyai kontrol terhadap misfire kecuali dengan melakukan penyambungan secara benar dan final check dengan teliti. Dengan kata lain, proses kontrol dilakukan secara fisik oleh seorang juru ledak.

Berbeda bila menggunakan system elektrik ataupun system dengan teknologi muktahir yakni elektronik, misfire dengan mudah dapat dicegah bahkan sebelum blasting mechine ditekan. Kedua system ini memiliki alat untuk mendeteksi apakah sambungan antara surface delay dengan surface delay atau dengan inhole delay telah tersambung dengan benar. Jadi, pada kedua metode ini, misfire yang disebabkan oleh human error tidak tersambung- bisa dicegah sedini mungkin. Adapun bila misfire terjadi pada system ini, boleh jadi dikarenakan oleh hal lain, seperti kegagalan detonator, atau terjadinya kerusakan (putus) setelah pengecekan atau analisa akhir dilakukan.

Mengapa misfire harus dicegah? Misfire yang terjadi mengakibatkan dua hal penting. Pertama berhubungan dengan keselamatan kerja, misfire sangat berbahaya bila terjadi dan tidak diketahui, apalagi bila misfire tidak ditemukan. Bahayanya adalah apabila Nonel, detonator, atau booster terkena oleh alat gali, atau dozer yang mungkin tengah bekerja di lokasi hasil suatu peledakan. Tentu saja fatality dan kerusakan berat pada alat adalah potensi paling tinggi bila lubang misfire meledak dengan sendirinya akibat gesekan, hantaman dari bucket atau blade alat berat tersebut.

Kedua adalah proses loss -kehilangan waktu produktif-, karena dengan terjadinya misfire maka alat-alat produksi harus tetap berhenti bekerja menunggu proses hingga juru ledak dapat mengontrol lubang-lubang misfire tersebut. Keputusan untuk penembakan kedua pada lubang-lubang misfire, tentu semakin menambah hilangnya waktu produksi. Dan bila dihitung, maka dalam semingu, satu bulan, atau setahun, maka kehilangan waktu tidaklah sedikit jumlahnya.

Beberapa tambang-tambang di Indoensia ataupun Australia, masih menggunakan metode yang biasa disebut final check. Metode ini adalah proses pengecekan sambungan antara inhole delay dan surface delay sebelum penembakan (firing) dilakukan. Final check dilakukan oleh satu orang atau lebih, dilakukan dengan berjalan dari baris pertama hingga baris terakhir, mengamati sambungan secara satu persatu. Cara ini cukup effektif bila pelakunya mengerjakannya dengan tenang, teliti, dan benar. Karena kelalaian dalam mengamati sambungan akan berakibat misfire. Juga cara ini cukup efektif bila dilakukan pada jumlah sambungan atau jumlah lubang yang tidak terlalu banyak (100 - 300 lubang). Bagaimana bila lubang ledak berjumlah lebih dari 600 lubang atau lebih?

Data misfire yang disebabkan oleh kegagalan sambungan (unconnected human error) di tambang batubara terbesar di Kaltim menunjukan: pada tahun 2005 telah terjadi 8 kali misfire dari sekitar 400.000 sambungan (1:50.000) dan akhir Agustus 2006 terjadi 9 kali misfire dari 350.000 sambungan (1:38.888). Data misfire ini relatif bagus bahkan bila dibandingkan dengan tambang-tambang di luar negeri yang menggunakan Nonel system yang sama.

Namun demikian hasil continous improvement menunjukan bahwa misfire akibat kegagalan sambungan masih bisa diperkecil atau bahkan ditiadakan. Metode baru pun telah dibuat dan diterapkan sejak September 2006 di tambang tersebut. Metode ini tidak berbeda dengan metode sebelumnya, hanya prinsipnya saja yang berubah.

Pertama, pengecekan sambungan dilakukan oleh orang yang melakukan penyambungan itu sendiri. Tidak dibebankan kepada orang yang melakukan final check seperti pada metode sebelumnya.Konsekuensinya, orang yang melakukan penyambungan haruslah seorang juru ledak yang kompeten dan bertanggungjawab penuh terhadap sambungan yang dibuatnya. Sambungan harus 100% benar sebelum ia melanjutkan untuk menyambung pada lubang berikutnya.

Kedua, memberi tanda pada sambungan sebagai identifikasi bahwa sambungan telah dilakukan dengan benar dan agar mudah dikenali siapa yang melakukannya. Tanda ini meggunakan pita warna. Bila ada tiga orang yang melakukan penyambungan, maka digunakan pita dengan warna berbeda untuk masing-masing orang. Ini sangat membantu pada proses investigasi bila misfire terjadi. Akan mudah diketahui siapa yang melakukan penyambungan di lubang tersebut. Jelas ini berbeda dengan metoda sebelumnya dimana tidak mudah untuk mengetahui siapa yang melakukan sambungan sebelumnya bila misfire terjadi.

Ketiga, final check dengan hanya melihat pita warna pada sambungan dan meletakkan pita warna yg berbeda pada lubang yang telah dilewatinya sebagai tanda bahwa orang kedua telah melihat lubang tersebut telah disambung. Keuntungannya adalah juru ledak dapat melakukan final check dengan cepat dan mudah. Bila juru ledak melihat lubang tanpa pita warna, berarti sambungan belum ada dan dia bisa melakukan sambungan pada lubang tersebut. Oleh karena itu, berapapun jumlah lubang yang akan diledakan, juru ledak akan dengan mudah melakukan final check tanpa terjadi dua kali atau lebih pengecekan pada satu lubang ledak.

Data terakhir dengan melaksanakan medote baru ini menunjukan hanya terjadi sekali misfire dari 187.000 sambungan. Misfire yang terjadipun dapat dengan mudah dideteksi siapa pelaku penyambungan dan dengan demikian mudah pula untuk melakukan langkah-langkah perbaikan, baik terhadap pelaku ataupun system itu sendiri.

(Sumber Majalah Pertambangan)